Melangkah dalam pendar lampu kematian
Raga yang tak berpenghuni
berteriak-teriak penuh kecemasan
karna jiwa telah berpulang dalam sendiri
sepi...sunyi...
tanpa pekik kematian...
Hidup sebuah catatan indah yang menjadi
buram tak bermakna....
buat jiwa kelam
puisi
|
This entry was posted on 08:44 and is filed under
puisi
. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
11 komentar:
Hidup mati
Batasnya
Sekulit ari
Hidup fana
sementara
Mati pasti
Abadi
Pilih mana ?.
nice poem
jarak antara hidup dan mati itu sangat tipis sekali.
sudahkah kita menyiapkan diri kita utk menghadapinya? bagaimana dengan bekal kita menghadapnya?
thanks karena telah mengingatkanku tentang kematian mba...
jangan ngomongin mati dulu...kita harus hidup untuk berjuang....merenungi dan membicarakan kematian buat aq merinding...meski aq buat posting tentang itu.....
ow pasti lagi drop..mari bangkitkan semangat menggejolakan jiwa..hahha..nyambung ga ya
Syair singkat penuh makna
Pendar lampu itu boleh mati
Tapi tidak pendar cahayaNya
Kalaupun aku harus berjalan
Adalah `dua` cahayaNya
Kan selalu menjadi penuntunku
Saat raga mengandung jiwa
Atau saat jiwa ini terbang kepadaNya...
Nice poem...;)
Makasih ya atas do`anya...:)
mmm bu.. saya sih kurang ngerti ttg puisi.. cuma nangkep dikit, puisi kematian yah..
pun kita memang smua akan menghadapNya.. smoga dg jalan yg indah..amin :)
dan sudah siapkah kita?
padat
singkat
dengan makna tersirat
hebattttt
siap-siap mo mati :(
Jadi teringat kata2 ini: hidup manusia bagaikan bunga rumput, sebentar ada lalu tiada lagi tersaput oleh angin, bahkan tempat dimana ia berada pun tidak akan lagi diingat orang.