TANPA JUDUL
20:40 | Author: lintang
Saat malam menampakkan keganasannya
Kabut tebal turun diiringi hembusan angin
Gemericik air melantunkan dendang sayang terluka
Seakan membacakan puisi tentang mati

Saat keganasan itu meneteskan darah
Kabut tebal perlahan pecah menjadi embun
Gemericik air serna menjadi marah
Dunia hanyalah duka

Sungguh...
Saat keganasan berjalan
Meninggalkan tapak-tapaknya
Waktu dan ruang adalah pedang
Menebas tekad dan harapan

Ku tak bisa memahami
Akan kaidah tapak-tapak bumi
Aku hanya merasakan
Saat dia berlalu tak mau peduli

sunggu ,
Aku hanya si....

(dikutip dr novel filsafat Tapak Sabda
,pengarang Fauz Noor)
|
This entry was posted on 20:40 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

15 komentar:

On 17 Desember 2008 01:46 , sarah mengatakan...

hidup selalu menyisakan misteri..
Postingannya membuat aQ merenung sejenak ttg sp diri Qta sebnrnya..
hehe kok jd mellow gini sich.. Wallah..
well, makasih y udah mampir k blogQ
salam kenal dariQ

sarahtidaksendiri.wordpress.com
sarahtidaksendiri.blogspot.com

 
On 17 Desember 2008 07:47 , nita mengatakan...

postinganmu selalu sendu, lintang
apakah hari2mu juga sesendu ini?
kuharap tidak
kuharap kau baik dan sehat selalu:)

 
On 17 Desember 2008 20:13 , japswords mengatakan...

puisi yang indah sekali mba... bergetar membaca setiap metafora yang sulit saya mengerti namun memang cukup dirasakan saja, tak perlu saya lebih jauh tuk mengerti.... salam kenal.... -japs-

 
On 18 Desember 2008 10:47 , ARIEF ULLYANOV mengatakan...

saya cuma mo ngomentarin tampilan blog-nya. Kerrrrreeeeennnn...desain sendiri?

Salam kenal yah...

 
On 18 Desember 2008 16:50 , Nyante Aza Lae mengatakan...

dalem banget ahh, sampe geleng2 nih memaknainya..

 
On 18 Desember 2008 17:52 , kweklina mengatakan...

Melalui peristiwa yang berlalu
Melalui detak-detik waktu
Tuhan mencoba membuat kita mengerti
Tuhan mencoba membuat kita memahami
Arti dari misteri-misteri itu

Yang kadang sulit sekali bisa kita terima
Tapi percayalah apapun ada hikmah dibalik semuanya

 
On 18 Desember 2008 19:59 , astrid savitri mengatakan...

waduh, barangkali harus baca novelnya juga ya supaya lebih dalam apresiasinya... tapi, puisi ini benar2 indah :)

 
On 18 Desember 2008 20:02 , cenya95 mengatakan...

Hmmm... nama yang bagus.
Lintang, nama anakku juga Lintang.
Sebuah bintang yang memberikan cahaya di malam gelap.
salam

 
On 18 Desember 2008 20:05 , gubukata mengatakan...

numpang kontemplasi...salam kenal...

 
On 18 Desember 2008 21:24 , Ersis WA mengatakan...

Malam adalah kehidupan
menghidupkan sebagaimana Baginda Rasullah
menyeruak memadu hati
menjejak tangg-tanga ke tujuan

Malam adalah kenikmatan
ketika makna direguk
mematri kesepakatan
dalam keheningan potensi dilabuhkan

Malam adal berkah
saat memberi dalam istirahat
malama adalah bagian berkah
dariNya

 
On 19 Desember 2008 01:19 , Diajeng mengatakan...

Kunjungan balik mba lintang :) salam hangat

 
On 19 Desember 2008 02:39 , Marshmallow mengatakan...

mas atau mbak lintang nih?
kutipan puisinya bagus dan dalam. malam memang selalu membangkitkan kesan yang berbeda-beda, bisa romantis, sendu, hingga menyeramkan. tapi saya suka kalau malam berbulan purnama. indah!

salam kenal kembali, mas/mbak lintang. (rasa-rasanya mas sih)

 
On 19 Desember 2008 03:40 , langitjiwa mengatakan...

aku hanya si...langitjiwa,hehe.. ( malam,mbak)

 
On 19 Desember 2008 21:23 , lintang mengatakan...

@ sarah: selamat dtg di rumahku yang kumuh ini
@ nita: badai masih memporak porandakan.
@ jabs : itu suara hati
@ arif: aku gak bikin sendiri, mana bs aku
yg gaptek bikin sendiri mas salam.
@ nyate aza lae: kebetulan lg berteman dgn
bk filsafat.
@ astrid: bukunya jg bagus mbak
@cenya95: itu nama penuh doa
@ gubuk kata : salam kenal jg
@ ersis: malam selalu membawa kita
pada Sang Pencipta
@ marshmallow: aku perempuan

 
On 20 Desember 2008 07:07 , sawali tuhusetya mengatakan...

wah, saya menangkap suasana tragis yang terpancar dari lirik2 puisi ini. sebuah kutipan novel yang mantab.