Kulihat camar itu terbang sendiri
Merentang sayap mengarungi samudra
Sendiri berkawan sepi
Sendiri berkawan mimpi
Samudara tak pernah ramah
Badainya selalu datang dan
Pergi tak terkendali
Sanggupkah kau kendalikan sayapmu
Mengepak dalam tiap hembus angin
Yang siap menghempaskanmu
Kedasar samudra....?
Untuk camar-camar yang sendiri
|
This entry was posted on 18:25 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
5 komentar:
saya adalah camar yg terbang sendiri
berteman sepi, berkubang mimpi
tapi saya merasa hepi.
nice poem, mbak....
membaca puisi ini serasa memahami kedalaman jiwaku sendiri.
biar kuhentang sayap selebar aku bisa
jika nanti aku lelah di tengah samudra
akan ku cari ujung tiang kapal yang tengah mengembara
atau biar aku terhempas ke kedalamannya....
:D puisinya bagus...
Ratusan tahun camar gagah dengan kepaknya, dengan gemuruh angin yang menerpa sayap-sayapnya. Tapi ia senantiasa ada dan terjaga.
Puisi ini bisa menjadi pembanding lagu "Burung Camar"-nya Vina Panduwinata ....
camar selalu siap kayaknya mbak.. sebab dia diciptakan untuk berada dekat2 samudera itu.
nice!