Kamis, 14 Mei 2009

CAMAR

Kulihat camar itu terbang sendiri
Merentang sayap mengarungi samudra
Sendiri berkawan sepi
Sendiri berkawan mimpi
Samudara tak pernah ramah
Badainya selalu datang dan
Pergi tak terkendali
Sanggupkah kau kendalikan sayapmu
Mengepak dalam tiap hembus angin
Yang siap menghempaskanmu
Kedasar samudra....?


Untuk camar-camar yang sendiri

5 komentar:

  1. saya adalah camar yg terbang sendiri
    berteman sepi, berkubang mimpi
    tapi saya merasa hepi.

    nice poem, mbak....
    membaca puisi ini serasa memahami kedalaman jiwaku sendiri.

    BalasHapus
  2. biar kuhentang sayap selebar aku bisa
    jika nanti aku lelah di tengah samudra
    akan ku cari ujung tiang kapal yang tengah mengembara
    atau biar aku terhempas ke kedalamannya....

    BalasHapus
  3. Ratusan tahun camar gagah dengan kepaknya, dengan gemuruh angin yang menerpa sayap-sayapnya. Tapi ia senantiasa ada dan terjaga.

    Puisi ini bisa menjadi pembanding lagu "Burung Camar"-nya Vina Panduwinata ....

    BalasHapus
  4. camar selalu siap kayaknya mbak.. sebab dia diciptakan untuk berada dekat2 samudera itu.

    nice!

    BalasHapus